Rabu, 21 September 2011

melukis rasa

Melukis Rasa

Selepas ujian akhir praktek, selepas kegiatan perkuliahan, selepas mengurus apa-apa yang harus dilepas,sesuai schedule yang saya buat sendiri, bulan agustus adalah waktunya saya belajar memasak. Memimpikan keluarga yang sempurna membuat saya terpacu untuk berbuat yang sesempurna mungkin walau itu tidak mungkin tapi tetaplah saya ingin berupaya maksimal…
Wanita sempurna menurut imajinasi saya adalah wanita yang dengan sukses memerankan perannya sebagai istri dan ibu bagi keluarganya dan wanita yang mempesona karyanya di lingkungan masyarakat. Atas dasar niat karena Allah, saya ingin optimal menjalani kehidupan yang diberikan Allah kepada saya sehingga dapat berbuat sesempurna mungkin semampu saya…
Hmm… saya selalu terpesona dengan wanita yang terlihat keibuannya. Setiap melalui perjalan dalam kesehariannya banyak orang yang saya temui dan mata saya akan tertegun pada sosok ibu yang dengan kelembutannya memancarkan aura keibuan yang menurut saya sangat “seksi”.
Mungkin dipandang orang lain akan sangat aneh dengan pendapat saya, wanita yang “seksi” menurut saya adalah sosok ibu dengan kulitnya yang mengkilap, berkerut dan saat dijabat mengeluarkan aroma bawang.hehehe…itu tandanya ibu tersebut sudah menjalankan tugasnya di dapur. Kemudian beberapakali menghela nafas panjang untuk menahan emosi karena ulah buah hatinya yang tak mau diam dikendaraan umum. Dengan tertahan sosok ibu tersebut mengeluarkan kata-kata lembut untuk memberi pengertian kepada buah hatinya tercinta. Tanpa lama-lama peri kecil itu merajuk manja pada sang mama.hmm…it’s so seksi…
Tergila-gila pada sosok ibu sejati membuat saya sangat ingin belajar memasak. Dulu, ketika saya masih cukup imut-imut,hehe…kira-kira umur 6-8 tahun,saya lumayan pandai memasak. Ketika itu saya masih tinggal dengan kakek nenek saya di sebuah desa kecil yang tertinggal di kota Sragen. Ketika nenek dan kakek saya pergi saya tak akan kwatir. Karena saya bisa masak sendiri. Tidak ada persediaan makanan di kulkas,hla wong kulkasnya aja tidak ada. Hehe…listrik masuk desa saja saya sudah sangat bersyukur. Jadi bahan makanan semua sudah tersedia di kebun belakang rumah. Sayur tinggal metik. Telur tinggal ambil dikandang ayam. Beras ya ambil saja di pendaringan beras. Semua hasil olahan sawah dan kebun nenek. Namanya juga masih bocil, memegang pisaupun belum bisa, alhasil hingga sekarang masih ada bekas-bekas irisan pisau dijari telunjuk kiri saya.
Jalan hidup pun berubah ketika kelas 4 SD saya tinggal dengan ayah dan ibu tiri saya di Jakarta. Mama tiri saya tidak bisa masak dan tidak suka masak. Gaya hiduppun berubah dengan selalu makan dari hasil olahan warung-warung makan disekitar rumah. Hingga kini saya tidak pernah memasak lagi atau sekedar bersentuhan dengan dapur. Setiap saya ingin memasak mama selalu uring-uringan karena merasa ribet melihat orang di dapur. Ya jadilah saya belasan tahun makan dari makanan warung-warung…
Alhamdulillah…setelah lepas dari mama, kini saya tinggal hanya denga papa. Setelah urusan kuliah selesai dan menanti wisuda, saya mulai ambil kompor di rumah bude saya. Saya beli perabot-perabot dapur.hehe…walau lumayan kacau juga saat dipasar karena saya tidak tau nama-nama alat masak. Jadilah saya belajar masak sesuka hati saya.
Bernostalgia masakan yang membuat saya rindu kampung halaman adalah “sambel lumpang” yang pedagangnya hingga kini masih ada dipertigaan jalan. Dahsyatt…menyatukan imajinasi saya dengan papa kira-kira bumbu apa yang dipakai untuk membuat “sambel lumpang”. Alhasil….tarrrraaaaa….pada 11 Agustus 2011 terciptalah “sambel lumpang ala hakiki”…hehe…senang karena melihat papa puas dengan hasil lukisan imajinasi saya hingga terkabullah menyantap makanan tradisional kampung halaman saya. Sambel lumpang itu wujudnya tidak seperti sambel pada umumnya. Lebih seperti sayur. Bumbunya diulek dan ditumis hingga harum dan yang unik adalah menggunakan tempe yang sudah busuk. Pasti heran dan orang-orang tidak ada yang pernah mengolah tempe busuk. Tempe busuk direbus kemudian diulek dengan bumbu dan ditumis bersamaan. Kemudian diberi air dan santan, irisan tahu coklat, kacang merah, dan krecek serta bumbu-bumbu lainnya yang membuat semakin mantabb… hoho…this is it…”sambel lumpang ala hakiki”….
14 tahun lebih saya tidak pernah melihat apalagi menyantap “sambel lumpang”, dengan cara mengingat-ngingat rasa saat terakhir memakannya (lebih dari 14 tahun silam) saya coba melukis rasa dengan bumbu-bumbu yang tersedia. Alhasil…jadilah masakan penuh kenangan masa kecil saya... 
Harusss bisa masakkk!!!;)

13082011
Catatan harian bidan

Ya Allah…jadikanlah profesi kami adalah profesi yang semakin mendekatkan kami kepada keridhaan-Mu,
Bukan profesi yang semakin melalaikan kami untuk beribadah kepada-Mu...
Jadikanlah profesi kami sebagai jembatan kami untuk menyeberangi lautan ujian-Mu….
Duhai Pemilik hati-hati kami…
Genggamlah hati kami dalam dekapan-Mu…
Jangan Engkau lepas kami walau sekejap saja,
karena sesungguhnya kami benar-benar dalam merugi…
Jadikanlah setiap tangisan bayi yang lahir kedunia sebagai peringatan kepada kami untuk selalu dekat kepada-Mu
Jadikanlah tangis haru keluarga sebagai pengingat kami atas rahmat-Mu
Jadikanlah setiap azan yang berkumandng syahdu ditelinga bayi-bayi mungil ini sebagai penggetar jiwa
Jadikanlah profesi kami sebagai pelita kami disaat kami dalam kegelapan
Jadikanlah profesi kami sebagai penuntun kami disaat kami terseok-seok menjalankan amanah ini
Jadikanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu yang pandai membaca lembaran-lembaran hikmah-Mu
Ya Rabb Yang Bertahta di Arsy yang mulia,
Sungguh kami benar-benar dalam merugi…
disaat panggilan azan-Mu berkumandang kami masih berada dalam perjalanan
waktu tilawah, kami gunakan untuk memeriksa pasien yang berdatangan
diwaktu panggilan-Mu kembali berseru, kami masih belum beranjak dari tempat kami
dimalam sepertiga-Mu yang demikian baik untuk mendekat mesra kepadaMu, kami masih bermandikan darah
disaat azan subuh berkumandang kami masih tegak berdiri untuk mengobservasi….
di waktu yang baik untuk menjemput rizki, kami lunglai mencari bantal selimut untuk merebahkan tubuh payah ini
disaat kumandang zuhur berseru, kami masih asik dengan mimpi indah kami…
tak ada lagi rawatip….”tak sempat” lagi hafalan surat…
kemanakah manajemen waktu kami yang dahulu demikian cantik kami rangkai?
kemanakah lembaran mutaba’ah yang kami catat dengan seksama?
kemanakah bacaan ayat suci yang demikian tartil kami baca hingga mampu memaknainya?
kemanakah wajah-wajah yang selalu menghiasi kajian-kajian islami?
kemanakah jiwa-jiwa yang selalu bermuhasabah di pagi hari?
Jika makanan HATI adalah tadabbur dan lail
Jika makanan TELINGA adalah murottal
Jika makanan AKAL adalah hikmah
Jika makanan MEMORI adalah hafalan
Jika makanan MATA adalah Al-Quran
Tak ubahnya kami manusia-manusia yang KELAPARAN…



4 JANUARI 2011
HAKIKI ERAWATI