Diakah sahabat sejati ku?
Orang yang seharusnya memusuhi ku
Namun ia datang dengan senyuman riang…
Walau awalnya terlihat curiga pada ku…
Namun kini ia benar-benar menjadi sahabat ku…
Dia selalu datang ketika kelesuan menyerang
Dia selalu datang ketika keputus asaan hadir dihadapan
Dia membawa bara semangat dan pekikan kalimat untuk membangkitkan
Disaat orang-orang menuntutku menjadi seperti yang mereka mau
Dia justru membimbingku menuju arah yang ku mau…
Mungkinkah ia sahabat sejatiku?
Hakiki.17.04.2011.16.55.sambil FB-an…\\^0^//
Minggu, 17 April 2011
dilema...
Setiap manusia pasti pernah dihadapkan pada pilihan. Dan setiap mahasiswa pasti dilanda kebingungan, kira-kira bagaimana setelah lulus nanti. Apa yang harus dikerjakan? Dimana? Bagaimana? Yah…seputar itulah pikiran mahasiswa yang sebentar lagi diwisuda. Saat kuliah ingin segera lulus, namun saat lulus malah bingung harus bagaimana,kemana... Mungkin itu yang saya alami sekarang. mungkin orang-ornag lebih bingung harus kerja dimana. Ingin konsen dengan bidang kuliahnya atau terjun bebas dengan alih bidang yang berlainan dengan ilmu yang ia tekuni di dunia perkuliahan. Kalau saya secara pribadi ingin berusaha setia dengan dunia kebidanan, selain sudah jatuh cinta pada bidang pelayanan kesehatan, saya selalu meyakini bahwa orang yang sukses adalah orang yang ahli dalam bidangnya.yupz!!!berusaha setia…walupun hati ini sangat melirik dunia usaha, peternakan, pertanian dan berbagai bidang lainnya yang tak kalah menarik dihati saya. Minat saya pada dunia usaha saya coba terapkan dengan membuka usaha yang masih berkaitan dengan dunia kesehatan. Minat peternakan? Masa’ saya harus ternak bayi? Hehe….ya tidak begitu juga. Apapun usahanya saya ingin berusaha mengaitkan dengan bidang yang saya kuasai. By the way, kali ini sedang tidak ingin membicarakan masalah ini. Yang saya pikirkan adalah beberapa planning saya setelah lulus ini. Akan kemanakah kaki ini melangkah? Bila ingin bekerja mungkin kalau saya mau ditempatkan dimanapun akan terbuka luas bagi seorang bidan. Namun yang menjadi pertimbangan saya adalah kemanakah saya harus menjatuhkan pilihan?
I have two plan in my life.
Planning pertama saya, hati kecil saya selalu terpanggil untuk mengabdi diwilayah-wilayah pelosok Indonesia. Wilayah yang pernah menjadi tujuan saya adalah Papua dan Balik Papan, Kalimantan Timur. Jika saya ke Papua, saya sudah tahu siapa yang harus saya hubungi, sudah ada kenalan bidan pula disana. Tapi hanya sekedar tau saja dan insyaallah bisa dimintai tolong untuk membantu proses saya kesana. Papua adalah wilayah HIV tertinggi di Indonesia, jadi konsep proteksi diri saya harus kuat bila saya ada disana, karena risiko besar yang saya hadapi langsung adalah tertular HIV/AIDS. Belum lagi wilayah Papua merupakan daerah endemic malaria. Penduduk disana mengatasi nyamuk-nyamuk malaria ini dengan cara menaburi seluruh tubuhnya dengan minyak babi, nauzubillah…saya kan harus sholat 5 waktu belum lagi sholat-sholat sunah lainnnya yang mengharuskan saya selalu dalam keadaan suci. Yayaya…mungkin yang disini tidak baik untuk saya dan agama saya. Tapi kadang saya tidak ingin kalah dengan bangsa yahudi karena mereka berprinsip dimanapun ada mereka disitulah mereka tumbuh. Hebat sekali mereka sementara saya merasa manja sekali bila saya harus takut dengan hambatan-hambatan seperti itu. Mereka saja mampu tumbuh dimana-mana dan kaum freemason pun memanfaatkan pedalaman-pedalaman sebagai sasaran empuk mereka untuk mengembangkan paham mereka.
Berlanjut ke Balik Papan,Kalimantan Timur. Disini adalah kota yang paling maju, sehingga saya tidak begitu berat hambatan-hambatannya. Kebetulan juga ada teman dari ayah saya yang istrinya seorang bidan juga disana dan bersedia menampung saya disana dan mengurusi syarat-syarat keberangkatan saya. Mungkin saya tinggal angkat koper untuk hijrah ke sana.ya itulah segenap panggilan hati saya untuk mengabdi kesana. Alangkah bahagianya bila saya menginjakkan kaki disana.walau saya tau hambatan saya akan sangat banyak dan beban saya bisa-bisa lebih dari 10 kali lipat bila saya bekerja di Jakarta.
Rencana saya untuk keluar pulau Jawa ini masih dalam Pro dan Kontra. Tapi banyakan kontra nya sih…yang Pro Cuma saya sendiri… hehe… ya baik dari teman, sahabat, dosen-dosen, saudara dan keluarga masih belum merestui saya pergi kesana. Alasannya selain daerah endemic dan HIV/AIDS nya tinggi,mereka khawatir terhadap keamanan saya yang masih berstatus single ditanah orang tersebut. Tapi saya kok modal yakin aja ya disana… yakin Allah akan melindungi saya dimanapun saya berada.
Namun yang membuat saya harus berkali-kali berpikir ulang adalah…..
Bila saya bekerja di Jakarta, saya ingin sambil kuliah bahasa arab di Al-Hikmah. Wajib seorang muslim mengerti bahasa arab. Saya ingin tergabung dalam organisasi kemanusiaan, organisasi yang masih saya pertimbangkan adalah Bulan Sabit Merah Indonesia, Farmasi Kesehatan Islam, Lembaga Kesehatan Cuma-Cuma dari dompet Dhuafa. Mengapa saya berpikir ingin bergabung dalam Farmasi Kesehatan Islam adalah terlebih karena teman saya ada yang lebih dulu sudah tergabung dengan mereka. Lembaga Kesehatan Cuma-Cuma merupakan lembaga yang saya tahu dari semenjak saya SMA, dan target saya dari SMA adalah bisa berkontribusi di LKC begitu kita menyebutnya. Saya sudah memiliki niat ini sejak saya belum terpikir untuk menjadi seoarang bidan. Mengapa saya menjadi tertarik di Bulan Sabit Merah Indonesia? Karena saya memiliki angan-angan untuk bisa menjadi wakil Indonesia yang dikirim ke Palestina untuk menjadi relawan dan kemudian saya MATI di Palestina sebagai SYUHADA,insyaallah.Allahuakbar!!!ya…tujuan saya di Bulan Sabit Merah memang untuk mati. Mungkin kedengarannya aneh, tapi memang itulah NIAT sungguh-sungguh saya. Mati sebagai SYUHADA bukan mati sia-sia di Palestina. Selain itu saya juga masih memiliki amanah di LDK kampus saya. Saya tergabung sebagai Dewan Alumni Formis. Dan saya masih memiliki kewajiban untuk mengurus Formis, LDK yang sudah kita perjuangkan bersama-sama untuk tegak berdiri di Poltekkes Kemenkes Jakarta I. tidak mungkin saya yang mengusulkan namun saya sendiri hengkang dari kampus ini.tidak….tidak…tidak…tidak bisa segera ditinggalkan seperti ini. Masih ada alasan lagi mengapa saya harus tetap ada di Jakarta. Alasan lainnya adalah saya ingin segera melanjutkan study saya. Saya ingin segera S1 lanjutkan lagi hingga S2 dan terus belajar. Hal ini tidak bisa saya lakukan sambil bekerja bila saya memilih bekerja di luar P.Jawa. belum lagi dengan mimpi saya untuk bisa melanjutkan study keluar negeri, mengikuti jejak dosen favorit saya Ibu Wasnidar yang melanjutkan study kebidanannya di London. Bukan karena pengidolaan saja. Namun memang untuk peningkatan kompetensi saya sebagai seorang tenaga kesehatan. Karena yang saya dengar, Indonesia tertinggal 20 tahun ilmu pengetahuaannya. Ohh…sungguh memprihatinkan bila pernyataan itu benar. Yang saya ketahui, di Negara barat sudah tidak menerapkan prinsip proteksi diri nya karena memang saat screening awal kehamilan sudah demikian komprehensifnya sehingga tidak ragu-ragu lagi untuk tidak menerapkan proteksi diri. Prinsip tafsiran berat janin pun dinegara barat sudah tidak menerapkan pengukuran tinggi fundus uteri dengan menggunakan metline lagi. hanya dengan palpasi sudah dapat menentukan tafsiran berat janin. Wow…sungguh dahsyatt…
Ya Allah…sungguh hamba bingung…harus kemanakah kaki ini melangkah? Haruskah ku penuhi naluri hati ku untuk menuju wilayah terpelosok? Ataukah memenuhi target-target saya di Jakarta? ?
Ku pasrahkan ya Rabb…semoga kemanapun kaki ini melangkah dapat memberikan banyak kebermanfaatan yang mengantarkanku untuk dapat berjumpa dengan-Mu…aamiin.
Hakiki.15042011.22.19
I have two plan in my life.
Planning pertama saya, hati kecil saya selalu terpanggil untuk mengabdi diwilayah-wilayah pelosok Indonesia. Wilayah yang pernah menjadi tujuan saya adalah Papua dan Balik Papan, Kalimantan Timur. Jika saya ke Papua, saya sudah tahu siapa yang harus saya hubungi, sudah ada kenalan bidan pula disana. Tapi hanya sekedar tau saja dan insyaallah bisa dimintai tolong untuk membantu proses saya kesana. Papua adalah wilayah HIV tertinggi di Indonesia, jadi konsep proteksi diri saya harus kuat bila saya ada disana, karena risiko besar yang saya hadapi langsung adalah tertular HIV/AIDS. Belum lagi wilayah Papua merupakan daerah endemic malaria. Penduduk disana mengatasi nyamuk-nyamuk malaria ini dengan cara menaburi seluruh tubuhnya dengan minyak babi, nauzubillah…saya kan harus sholat 5 waktu belum lagi sholat-sholat sunah lainnnya yang mengharuskan saya selalu dalam keadaan suci. Yayaya…mungkin yang disini tidak baik untuk saya dan agama saya. Tapi kadang saya tidak ingin kalah dengan bangsa yahudi karena mereka berprinsip dimanapun ada mereka disitulah mereka tumbuh. Hebat sekali mereka sementara saya merasa manja sekali bila saya harus takut dengan hambatan-hambatan seperti itu. Mereka saja mampu tumbuh dimana-mana dan kaum freemason pun memanfaatkan pedalaman-pedalaman sebagai sasaran empuk mereka untuk mengembangkan paham mereka.
Berlanjut ke Balik Papan,Kalimantan Timur. Disini adalah kota yang paling maju, sehingga saya tidak begitu berat hambatan-hambatannya. Kebetulan juga ada teman dari ayah saya yang istrinya seorang bidan juga disana dan bersedia menampung saya disana dan mengurusi syarat-syarat keberangkatan saya. Mungkin saya tinggal angkat koper untuk hijrah ke sana.ya itulah segenap panggilan hati saya untuk mengabdi kesana. Alangkah bahagianya bila saya menginjakkan kaki disana.walau saya tau hambatan saya akan sangat banyak dan beban saya bisa-bisa lebih dari 10 kali lipat bila saya bekerja di Jakarta.
Rencana saya untuk keluar pulau Jawa ini masih dalam Pro dan Kontra. Tapi banyakan kontra nya sih…yang Pro Cuma saya sendiri… hehe… ya baik dari teman, sahabat, dosen-dosen, saudara dan keluarga masih belum merestui saya pergi kesana. Alasannya selain daerah endemic dan HIV/AIDS nya tinggi,mereka khawatir terhadap keamanan saya yang masih berstatus single ditanah orang tersebut. Tapi saya kok modal yakin aja ya disana… yakin Allah akan melindungi saya dimanapun saya berada.
Namun yang membuat saya harus berkali-kali berpikir ulang adalah…..
Bila saya bekerja di Jakarta, saya ingin sambil kuliah bahasa arab di Al-Hikmah. Wajib seorang muslim mengerti bahasa arab. Saya ingin tergabung dalam organisasi kemanusiaan, organisasi yang masih saya pertimbangkan adalah Bulan Sabit Merah Indonesia, Farmasi Kesehatan Islam, Lembaga Kesehatan Cuma-Cuma dari dompet Dhuafa. Mengapa saya berpikir ingin bergabung dalam Farmasi Kesehatan Islam adalah terlebih karena teman saya ada yang lebih dulu sudah tergabung dengan mereka. Lembaga Kesehatan Cuma-Cuma merupakan lembaga yang saya tahu dari semenjak saya SMA, dan target saya dari SMA adalah bisa berkontribusi di LKC begitu kita menyebutnya. Saya sudah memiliki niat ini sejak saya belum terpikir untuk menjadi seoarang bidan. Mengapa saya menjadi tertarik di Bulan Sabit Merah Indonesia? Karena saya memiliki angan-angan untuk bisa menjadi wakil Indonesia yang dikirim ke Palestina untuk menjadi relawan dan kemudian saya MATI di Palestina sebagai SYUHADA,insyaallah.Allahuakbar!!!ya…tujuan saya di Bulan Sabit Merah memang untuk mati. Mungkin kedengarannya aneh, tapi memang itulah NIAT sungguh-sungguh saya. Mati sebagai SYUHADA bukan mati sia-sia di Palestina. Selain itu saya juga masih memiliki amanah di LDK kampus saya. Saya tergabung sebagai Dewan Alumni Formis. Dan saya masih memiliki kewajiban untuk mengurus Formis, LDK yang sudah kita perjuangkan bersama-sama untuk tegak berdiri di Poltekkes Kemenkes Jakarta I. tidak mungkin saya yang mengusulkan namun saya sendiri hengkang dari kampus ini.tidak….tidak…tidak…tidak bisa segera ditinggalkan seperti ini. Masih ada alasan lagi mengapa saya harus tetap ada di Jakarta. Alasan lainnya adalah saya ingin segera melanjutkan study saya. Saya ingin segera S1 lanjutkan lagi hingga S2 dan terus belajar. Hal ini tidak bisa saya lakukan sambil bekerja bila saya memilih bekerja di luar P.Jawa. belum lagi dengan mimpi saya untuk bisa melanjutkan study keluar negeri, mengikuti jejak dosen favorit saya Ibu Wasnidar yang melanjutkan study kebidanannya di London. Bukan karena pengidolaan saja. Namun memang untuk peningkatan kompetensi saya sebagai seorang tenaga kesehatan. Karena yang saya dengar, Indonesia tertinggal 20 tahun ilmu pengetahuaannya. Ohh…sungguh memprihatinkan bila pernyataan itu benar. Yang saya ketahui, di Negara barat sudah tidak menerapkan prinsip proteksi diri nya karena memang saat screening awal kehamilan sudah demikian komprehensifnya sehingga tidak ragu-ragu lagi untuk tidak menerapkan proteksi diri. Prinsip tafsiran berat janin pun dinegara barat sudah tidak menerapkan pengukuran tinggi fundus uteri dengan menggunakan metline lagi. hanya dengan palpasi sudah dapat menentukan tafsiran berat janin. Wow…sungguh dahsyatt…
Ya Allah…sungguh hamba bingung…harus kemanakah kaki ini melangkah? Haruskah ku penuhi naluri hati ku untuk menuju wilayah terpelosok? Ataukah memenuhi target-target saya di Jakarta? ?
Ku pasrahkan ya Rabb…semoga kemanapun kaki ini melangkah dapat memberikan banyak kebermanfaatan yang mengantarkanku untuk dapat berjumpa dengan-Mu…aamiin.
Hakiki.15042011.22.19
jika mereka begitu maka aku begini
Jika mereka pernah menyakitiku, maka sewajarnya aku memusuhinya
Tapi ini tidak, aku tetap menjadi temannya.
Jika mereka pernah membohongiku, maka sewajarnya aku marah padanya
Tapi ini tidak, aku tetap menjadi temannya.
Jika mereka pernah memanfaatkanku, maka sewajarnya aku menjauhinya
Tapi ini tidak, aku tetap menjadi temannya.
Jika mereka pernah mengkhianatiku, maka sewajarnya aku tak mempercayainya
Tapi ini tidak, aku tetap menjadi temannya.
Jika mereka pernah mempermainkanku, maka sewajarnya aku membencinya
Tapi ini tidak, aku tetap menjadi temannya.
Jika mereka pernah menghinaku, maka sewajarnya aku sakit hati padanya
Tapi ini tidak, aku tetap menjadi temannya.
Mereka curiga dengan pertemananku? Ya, karena aku berbuat tak sewajarnya.
Namun salahkah aku bila berbuat diluar kewajaran?
Satu hal yang ku pelajari, ketika orang lain memberimu bara api berikanlah air yang menyejukkan
Tahukah kamu apa yang terjadi?
Ketika pelajaran itu ku praktekkan, benar saja orang yang paling jahat kepada ku kini mendeklarasikan hidup matinya untuk menjaga ku…
Jadi masih salahkah aku bertindak diluar kewajaran?
Aku tulus menjadikanmu sebagai temanku,berharap suatu saat nanti bisa saling mengunjungi dan bersilaturahmi. Tak ada keuntungan lain yang ku harapkan darimu selain menjadi saudaramu…
Dedication me to my “friends”. Ya, katanya “friends” gak tau deh klo masih banyak kecurigaan-kecurigaan. No problemooo…..whatever do u think about me, but it’s true from me…
Hakiki.17.14.2011.17.47_sambil nunggu magrib_\\^0^//
Tapi ini tidak, aku tetap menjadi temannya.
Jika mereka pernah membohongiku, maka sewajarnya aku marah padanya
Tapi ini tidak, aku tetap menjadi temannya.
Jika mereka pernah memanfaatkanku, maka sewajarnya aku menjauhinya
Tapi ini tidak, aku tetap menjadi temannya.
Jika mereka pernah mengkhianatiku, maka sewajarnya aku tak mempercayainya
Tapi ini tidak, aku tetap menjadi temannya.
Jika mereka pernah mempermainkanku, maka sewajarnya aku membencinya
Tapi ini tidak, aku tetap menjadi temannya.
Jika mereka pernah menghinaku, maka sewajarnya aku sakit hati padanya
Tapi ini tidak, aku tetap menjadi temannya.
Mereka curiga dengan pertemananku? Ya, karena aku berbuat tak sewajarnya.
Namun salahkah aku bila berbuat diluar kewajaran?
Satu hal yang ku pelajari, ketika orang lain memberimu bara api berikanlah air yang menyejukkan
Tahukah kamu apa yang terjadi?
Ketika pelajaran itu ku praktekkan, benar saja orang yang paling jahat kepada ku kini mendeklarasikan hidup matinya untuk menjaga ku…
Jadi masih salahkah aku bertindak diluar kewajaran?
Aku tulus menjadikanmu sebagai temanku,berharap suatu saat nanti bisa saling mengunjungi dan bersilaturahmi. Tak ada keuntungan lain yang ku harapkan darimu selain menjadi saudaramu…
Dedication me to my “friends”. Ya, katanya “friends” gak tau deh klo masih banyak kecurigaan-kecurigaan. No problemooo…..whatever do u think about me, but it’s true from me…
Hakiki.17.14.2011.17.47_sambil nunggu magrib_\\^0^//
Selasa, 12 April 2011
malam ini untuk hati ku
Malam ini aku ingin memanjakan diri, kembali menjadi sosok yang normal sebagai wanita yang juga punya hati…
Sudah lama, sangat lama mungkin aku tidak pernah memperhatikan hati ku sendiri, sibuk dengan tanggungjawab dan kepadatan jadwal kuliah dan dines dimana-mana. Cukup membantu memang, pekerjaan memang obat yang mujarab sebagai teman dikala sedih, dikala sakit, dikala letih.
Tapi saat ini aku ingin memanjakan hatiku, membiarkannya menangis, membiarkannya bersedih, karena hal itu tidak pernah ku ijinkan hinggap dihatiku selama ini.
“Semuanya akan baik-baik saja dan berjalan sebagai mana mestinya hingga aku tidak perlu khawatir atas segala ketentuan-Nya, tidak perlu menangis karena air mata itu akan semakin membuatmu terlihat menyedihkan, tidak perlu berbagi kesedihan karena itu hanya akan membuatmu semakin malu karena rasa kasihan dari orang lain yang kamu dapatkan. Tidak perlu tampak lesu, muram tak bercahaya karena itu akan memperkuat penampilan burukmu dihadapan orang-orang. Tunjukkan senyummu, tampakkan keceriaanmu, hibur semua orang yang dekat denganmu, berbuat baik semampumu, bahagiakan mereka hingga mereka merasa indah bersamamu, merindui kehadiranmu disetiap waktu.”
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
Artinya : “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “ Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”(QS. Fushilat : 33)
Ya..itulah prinsip keseharianku, hingga aku tak pernah mengijinkan pipiku dialiri oleh air mata kecuali saat ku berdoa karena takut terhadap Rabb ku, kecuali saat ku tahu aku melalaikan orang-orang terdekatku dihimpit kesulitan namun karena kebodohanku, aku tak sempat membantu…
Baik lah aku sedang ingin menangis saat ini, tak perduli apa yang ingin ku tangisi, aku ingin memberi dispensasi terhadap hatiku sendiri untuk kembali ke fitrahku sebagai wanita yang lembut hatinya, mudah terenyuh terhadap sesuatu kesedihan.
Namun gara-gara aku menulis catatan ini hilang sudah atmosfer kesedihanku, tak jadi lah aku menangis…lantas kapan aku sempat menangis???:-)
Ya Rabb, aku bersujud kepada-Mu, terimakasih atas seluruh kebahagiaan yang Kau berikan kepada ku, terimakasih atas anugerah mental yang kuat, hati yang ikhlas, jiwa yang lepas hingga aku sangat menikmati setiap ujian yang Kau berikan kepadaku.
Jadikanlah setiap nafasku hanya untuk mengingat-Mu, bermanja-manja kepada-Mu hingga aku merasa tak kan mampu hidup jauh dari-Mu. Genggam erat jiwaku, dekap erat tubuhku, basuh lembut hatiku, jadikanlah aku termasuk kedalam kekasih-Mu…
HQQ.050311.19:22
Sudah lama, sangat lama mungkin aku tidak pernah memperhatikan hati ku sendiri, sibuk dengan tanggungjawab dan kepadatan jadwal kuliah dan dines dimana-mana. Cukup membantu memang, pekerjaan memang obat yang mujarab sebagai teman dikala sedih, dikala sakit, dikala letih.
Tapi saat ini aku ingin memanjakan hatiku, membiarkannya menangis, membiarkannya bersedih, karena hal itu tidak pernah ku ijinkan hinggap dihatiku selama ini.
“Semuanya akan baik-baik saja dan berjalan sebagai mana mestinya hingga aku tidak perlu khawatir atas segala ketentuan-Nya, tidak perlu menangis karena air mata itu akan semakin membuatmu terlihat menyedihkan, tidak perlu berbagi kesedihan karena itu hanya akan membuatmu semakin malu karena rasa kasihan dari orang lain yang kamu dapatkan. Tidak perlu tampak lesu, muram tak bercahaya karena itu akan memperkuat penampilan burukmu dihadapan orang-orang. Tunjukkan senyummu, tampakkan keceriaanmu, hibur semua orang yang dekat denganmu, berbuat baik semampumu, bahagiakan mereka hingga mereka merasa indah bersamamu, merindui kehadiranmu disetiap waktu.”
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
Artinya : “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “ Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”(QS. Fushilat : 33)
Ya..itulah prinsip keseharianku, hingga aku tak pernah mengijinkan pipiku dialiri oleh air mata kecuali saat ku berdoa karena takut terhadap Rabb ku, kecuali saat ku tahu aku melalaikan orang-orang terdekatku dihimpit kesulitan namun karena kebodohanku, aku tak sempat membantu…
Baik lah aku sedang ingin menangis saat ini, tak perduli apa yang ingin ku tangisi, aku ingin memberi dispensasi terhadap hatiku sendiri untuk kembali ke fitrahku sebagai wanita yang lembut hatinya, mudah terenyuh terhadap sesuatu kesedihan.
Namun gara-gara aku menulis catatan ini hilang sudah atmosfer kesedihanku, tak jadi lah aku menangis…lantas kapan aku sempat menangis???:-)
Ya Rabb, aku bersujud kepada-Mu, terimakasih atas seluruh kebahagiaan yang Kau berikan kepada ku, terimakasih atas anugerah mental yang kuat, hati yang ikhlas, jiwa yang lepas hingga aku sangat menikmati setiap ujian yang Kau berikan kepadaku.
Jadikanlah setiap nafasku hanya untuk mengingat-Mu, bermanja-manja kepada-Mu hingga aku merasa tak kan mampu hidup jauh dari-Mu. Genggam erat jiwaku, dekap erat tubuhku, basuh lembut hatiku, jadikanlah aku termasuk kedalam kekasih-Mu…
HQQ.050311.19:22
surat untuk kakakku tercinta
Barakallah,
Untuk kedua kakak ku terkasih yang telah mengambil tanggungjawab baru dalam hidupnya.
Membuka lembaran baru, cerita baru dengan babak kehidupan yang baru dan dengan penambahan aktor baru pula dalam skenario kehidupannya…
Kakak ku terkasih…
Andai ada suatu perkataan yang pantas ku ucapkan untuk mu maka tak ada perkataan yang lebih baik lagi dari ku selain apa yang ingin ku sampaikan sebagaimana yang disampaikan ibunda kita Sayyiddah Aisyah ra…
Aisyah ra bertanya kepada Rasulallah SAW,
“Siapakah Manusia yang paling berhak atas seorang wanita?” Maka beliau menjawab, “Suaminya.” (HR. Al-Hakim dan Al-Bazzar, hadits hasan)
Sebagai mana yang disampaikan Rasulallah SAW kepada umatnya,
Kalau saja aku diperbolehkan memerintahkan seseorang untuk bersujud kepada selain Allah, niscaya aku akan perintahkan seorang istri bersujud kepada suaminya. Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, sungguh searang istri itu tidak dikatakan menunaikan hak Rabb-nya hingga dia menunaikan hak suaminya. (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah, Hadits hasan)
Sedemikian luasnya jalan yang dibukakan oleh Allah bagi wanita untuk meraih ridha-Nya…
Ridha suami kepadamu merupakan jalan menuju jannah-Nya…
Kepatuhanmu kepada suamimu niatkanlah untuk meraih keridhaan-Nya…
Ingatlah selalu bahwa melaksanakan hak suamimu merupakan bagian dari melaksanakan hak Rabb-Mu…
Berbahagialah karena engkau hidup dalam kubangan nikmat yang dihadirkan bersama suami yang engkau kasihi…
Berbahagialah karena engkau dapati suami yang dapat membawamu menuju surga teragung sebagai tempat kedudukan semulia-mulianya…
Ku kutip dari sebuah buku, seorang penyair atas nama para suami yang sedang bersedih memberikan nasihat kepada para istri:
Maafkan aku
Dengan begitu kau akan melanggengkan rasa kasihku
Janganlah kau angkat bicara ketika aku sedang dipuncak amarah
Jangalah banyak mengadu sehingga rasa cintaku menjadi gersang
Karena hati itu selalu terbolak-balik
Rasa cinta dan luka itu letaknya dalam hati
Jika keduanya berkumpul, cinta tidak akan tinggal dan segera pergi.
Istri yang cerdas, lemah lembut, dan ramah akan mampu mendapatkan segala yang diinginkannya dari suaminya…
Dan itu yang ku dapati dari dalam dirimu…
Berbahagialah karena engkau akan mendapatkan segala sesuatu yang engkau inginkan dari suamimu…
Pertahankanlah kepandaian, kelemahlembutan dan keramahanmu dikala diri dikuasai amarah…
Karena hanya dengan kepandaian, kelemahlembutan dan keramahanlah seluruh masalah dapat diselesaikan…
Aku ingin bisa seperti mu,agar ku dapat keberuntungan seperti mu…^_^
Peluk rindu untuk ke dua kakak ku…
… Winna Andini…Nurhasnah…
_Hakiki_
Untuk kedua kakak ku terkasih yang telah mengambil tanggungjawab baru dalam hidupnya.
Membuka lembaran baru, cerita baru dengan babak kehidupan yang baru dan dengan penambahan aktor baru pula dalam skenario kehidupannya…
Kakak ku terkasih…
Andai ada suatu perkataan yang pantas ku ucapkan untuk mu maka tak ada perkataan yang lebih baik lagi dari ku selain apa yang ingin ku sampaikan sebagaimana yang disampaikan ibunda kita Sayyiddah Aisyah ra…
Aisyah ra bertanya kepada Rasulallah SAW,
“Siapakah Manusia yang paling berhak atas seorang wanita?” Maka beliau menjawab, “Suaminya.” (HR. Al-Hakim dan Al-Bazzar, hadits hasan)
Sebagai mana yang disampaikan Rasulallah SAW kepada umatnya,
Kalau saja aku diperbolehkan memerintahkan seseorang untuk bersujud kepada selain Allah, niscaya aku akan perintahkan seorang istri bersujud kepada suaminya. Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, sungguh searang istri itu tidak dikatakan menunaikan hak Rabb-nya hingga dia menunaikan hak suaminya. (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah, Hadits hasan)
Sedemikian luasnya jalan yang dibukakan oleh Allah bagi wanita untuk meraih ridha-Nya…
Ridha suami kepadamu merupakan jalan menuju jannah-Nya…
Kepatuhanmu kepada suamimu niatkanlah untuk meraih keridhaan-Nya…
Ingatlah selalu bahwa melaksanakan hak suamimu merupakan bagian dari melaksanakan hak Rabb-Mu…
Berbahagialah karena engkau hidup dalam kubangan nikmat yang dihadirkan bersama suami yang engkau kasihi…
Berbahagialah karena engkau dapati suami yang dapat membawamu menuju surga teragung sebagai tempat kedudukan semulia-mulianya…
Ku kutip dari sebuah buku, seorang penyair atas nama para suami yang sedang bersedih memberikan nasihat kepada para istri:
Maafkan aku
Dengan begitu kau akan melanggengkan rasa kasihku
Janganlah kau angkat bicara ketika aku sedang dipuncak amarah
Jangalah banyak mengadu sehingga rasa cintaku menjadi gersang
Karena hati itu selalu terbolak-balik
Rasa cinta dan luka itu letaknya dalam hati
Jika keduanya berkumpul, cinta tidak akan tinggal dan segera pergi.
Istri yang cerdas, lemah lembut, dan ramah akan mampu mendapatkan segala yang diinginkannya dari suaminya…
Dan itu yang ku dapati dari dalam dirimu…
Berbahagialah karena engkau akan mendapatkan segala sesuatu yang engkau inginkan dari suamimu…
Pertahankanlah kepandaian, kelemahlembutan dan keramahanmu dikala diri dikuasai amarah…
Karena hanya dengan kepandaian, kelemahlembutan dan keramahanlah seluruh masalah dapat diselesaikan…
Aku ingin bisa seperti mu,agar ku dapat keberuntungan seperti mu…^_^
Peluk rindu untuk ke dua kakak ku…
… Winna Andini…Nurhasnah…
_Hakiki_
Langganan:
Komentar (Atom)