Minggu, 17 April 2011

dilema...

Setiap manusia pasti pernah dihadapkan pada pilihan. Dan setiap mahasiswa pasti dilanda kebingungan, kira-kira bagaimana setelah lulus nanti. Apa yang harus dikerjakan? Dimana? Bagaimana? Yah…seputar itulah pikiran mahasiswa yang sebentar lagi diwisuda. Saat kuliah ingin segera lulus, namun saat lulus malah bingung harus bagaimana,kemana... Mungkin itu yang saya alami sekarang. mungkin orang-ornag lebih bingung harus kerja dimana. Ingin konsen dengan bidang kuliahnya atau terjun bebas dengan alih bidang yang berlainan dengan ilmu yang ia tekuni di dunia perkuliahan. Kalau saya secara pribadi ingin berusaha setia dengan dunia kebidanan, selain sudah jatuh cinta pada bidang pelayanan kesehatan, saya selalu meyakini bahwa orang yang sukses adalah orang yang ahli dalam bidangnya.yupz!!!berusaha setia…walupun hati ini sangat melirik dunia usaha, peternakan, pertanian dan berbagai bidang lainnya yang tak kalah menarik dihati saya. Minat saya pada dunia usaha saya coba terapkan dengan membuka usaha yang masih berkaitan dengan dunia kesehatan. Minat peternakan? Masa’ saya harus ternak bayi? Hehe….ya tidak begitu juga. Apapun usahanya saya ingin berusaha mengaitkan dengan bidang yang saya kuasai. By the way, kali ini sedang tidak ingin membicarakan masalah ini. Yang saya pikirkan adalah beberapa planning saya setelah lulus ini. Akan kemanakah kaki ini melangkah? Bila ingin bekerja mungkin kalau saya mau ditempatkan dimanapun akan terbuka luas bagi seorang bidan. Namun yang menjadi pertimbangan saya adalah kemanakah saya harus menjatuhkan pilihan?
I have two plan in my life.
Planning pertama saya, hati kecil saya selalu terpanggil untuk mengabdi diwilayah-wilayah pelosok Indonesia. Wilayah yang pernah menjadi tujuan saya adalah Papua dan Balik Papan, Kalimantan Timur. Jika saya ke Papua, saya sudah tahu siapa yang harus saya hubungi, sudah ada kenalan bidan pula disana. Tapi hanya sekedar tau saja dan insyaallah bisa dimintai tolong untuk membantu proses saya kesana. Papua adalah wilayah HIV tertinggi di Indonesia, jadi konsep proteksi diri saya harus kuat bila saya ada disana, karena risiko besar yang saya hadapi langsung adalah tertular HIV/AIDS. Belum lagi wilayah Papua merupakan daerah endemic malaria. Penduduk disana mengatasi nyamuk-nyamuk malaria ini dengan cara menaburi seluruh tubuhnya dengan minyak babi, nauzubillah…saya kan harus sholat 5 waktu belum lagi sholat-sholat sunah lainnnya yang mengharuskan saya selalu dalam keadaan suci. Yayaya…mungkin yang disini tidak baik untuk saya dan agama saya. Tapi kadang saya tidak ingin kalah dengan bangsa yahudi karena mereka berprinsip dimanapun ada mereka disitulah mereka tumbuh. Hebat sekali mereka sementara saya merasa manja sekali bila saya harus takut dengan hambatan-hambatan seperti itu. Mereka saja mampu tumbuh dimana-mana dan kaum freemason pun memanfaatkan pedalaman-pedalaman sebagai sasaran empuk mereka untuk mengembangkan paham mereka.
Berlanjut ke Balik Papan,Kalimantan Timur. Disini adalah kota yang paling maju, sehingga saya tidak begitu berat hambatan-hambatannya. Kebetulan juga ada teman dari ayah saya yang istrinya seorang bidan juga disana dan bersedia menampung saya disana dan mengurusi syarat-syarat keberangkatan saya. Mungkin saya tinggal angkat koper untuk hijrah ke sana.ya itulah segenap panggilan hati saya untuk mengabdi kesana. Alangkah bahagianya bila saya menginjakkan kaki disana.walau saya tau hambatan saya akan sangat banyak dan beban saya bisa-bisa lebih dari 10 kali lipat bila saya bekerja di Jakarta.
Rencana saya untuk keluar pulau Jawa ini masih dalam Pro dan Kontra. Tapi banyakan kontra nya sih…yang Pro Cuma saya sendiri… hehe… ya baik dari teman, sahabat, dosen-dosen, saudara dan keluarga masih belum merestui saya pergi kesana. Alasannya selain daerah endemic dan HIV/AIDS nya tinggi,mereka khawatir terhadap keamanan saya yang masih berstatus single ditanah orang tersebut. Tapi saya kok modal yakin aja ya disana… yakin Allah akan melindungi saya dimanapun saya berada.
Namun yang membuat saya harus berkali-kali berpikir ulang adalah…..
Bila saya bekerja di Jakarta, saya ingin sambil kuliah bahasa arab di Al-Hikmah. Wajib seorang muslim mengerti bahasa arab. Saya ingin tergabung dalam organisasi kemanusiaan, organisasi yang masih saya pertimbangkan adalah Bulan Sabit Merah Indonesia, Farmasi Kesehatan Islam, Lembaga Kesehatan Cuma-Cuma dari dompet Dhuafa. Mengapa saya berpikir ingin bergabung dalam Farmasi Kesehatan Islam adalah terlebih karena teman saya ada yang lebih dulu sudah tergabung dengan mereka. Lembaga Kesehatan Cuma-Cuma merupakan lembaga yang saya tahu dari semenjak saya SMA, dan target saya dari SMA adalah bisa berkontribusi di LKC begitu kita menyebutnya. Saya sudah memiliki niat ini sejak saya belum terpikir untuk menjadi seoarang bidan. Mengapa saya menjadi tertarik di Bulan Sabit Merah Indonesia? Karena saya memiliki angan-angan untuk bisa menjadi wakil Indonesia yang dikirim ke Palestina untuk menjadi relawan dan kemudian saya MATI di Palestina sebagai SYUHADA,insyaallah.Allahuakbar!!!ya…tujuan saya di Bulan Sabit Merah memang untuk mati. Mungkin kedengarannya aneh, tapi memang itulah NIAT sungguh-sungguh saya. Mati sebagai SYUHADA bukan mati sia-sia di Palestina. Selain itu saya juga masih memiliki amanah di LDK kampus saya. Saya tergabung sebagai Dewan Alumni Formis. Dan saya masih memiliki kewajiban untuk mengurus Formis, LDK yang sudah kita perjuangkan bersama-sama untuk tegak berdiri di Poltekkes Kemenkes Jakarta I. tidak mungkin saya yang mengusulkan namun saya sendiri hengkang dari kampus ini.tidak….tidak…tidak…tidak bisa segera ditinggalkan seperti ini. Masih ada alasan lagi mengapa saya harus tetap ada di Jakarta. Alasan lainnya adalah saya ingin segera melanjutkan study saya. Saya ingin segera S1 lanjutkan lagi hingga S2 dan terus belajar. Hal ini tidak bisa saya lakukan sambil bekerja bila saya memilih bekerja di luar P.Jawa. belum lagi dengan mimpi saya untuk bisa melanjutkan study keluar negeri, mengikuti jejak dosen favorit saya Ibu Wasnidar yang melanjutkan study kebidanannya di London. Bukan karena pengidolaan saja. Namun memang untuk peningkatan kompetensi saya sebagai seorang tenaga kesehatan. Karena yang saya dengar, Indonesia tertinggal 20 tahun ilmu pengetahuaannya. Ohh…sungguh memprihatinkan bila pernyataan itu benar. Yang saya ketahui, di Negara barat sudah tidak menerapkan prinsip proteksi diri nya karena memang saat screening awal kehamilan sudah demikian komprehensifnya sehingga tidak ragu-ragu lagi untuk tidak menerapkan proteksi diri. Prinsip tafsiran berat janin pun dinegara barat sudah tidak menerapkan pengukuran tinggi fundus uteri dengan menggunakan metline lagi. hanya dengan palpasi sudah dapat menentukan tafsiran berat janin. Wow…sungguh dahsyatt…
Ya Allah…sungguh hamba bingung…harus kemanakah kaki ini melangkah? Haruskah ku penuhi naluri hati ku untuk menuju wilayah terpelosok? Ataukah memenuhi target-target saya di Jakarta? ?
Ku pasrahkan ya Rabb…semoga kemanapun kaki ini melangkah dapat memberikan banyak kebermanfaatan yang mengantarkanku untuk dapat berjumpa dengan-Mu…aamiin.
Hakiki.15042011.22.19

1 komentar:

  1. mimpi dan cita2 yang bagus.. semoga sukses meraihnya yaa ki.. smpe ketemu di kalimantan atau mgkn di london sana ;)

    BalasHapus